![]() |
| Pototano (Foto pribadi) |
Suatu hari nanti
Mungkin
kamu akan lebih memilih tenang dibanding senang.
Lebih memilih dimengerti daripada dipatuhi.
Lebih memilih diterima daripada dipuja.
Saat itu kamu sudah paham
Bahwa
rumah bukanlah tentang mewahnya barang-barang.
Tapi
tentang hangatnya pelukan yang menyambutmu pulang.
***
Puisi ini saya
olah dari salah satu VT
![]() |
| Sumber Gambar |
Sekecil itu ia menjadi
pemulung.
Mungkin dialah tulang
punggung.
Keringatnya kucuran tinta yang
menuliskan dongeng.
Dongeng yang tiba-tiba
berkhianat menjadi nyata.
Lalu, untuk apa semua kutipan
bijak itu?
Jika masih ada orang yang mencari makan
dari sisa makanan yang terbuang.
***
- ans - Puisi ini saya tulis untuk menasehati diri saya sendiri tentang banyak hal.
----------
Puisi
ini saya olah dari tweet @fifi_zhafira
Demi
apa, mentari pagi ini
Layaknya
sebuah andai
Ia tersenyum
tanpa arti
bukan
sinar, pun tanpa cahaya
Jika
aku jauh darinya
Demi
apa, mentari pagi ini
Melintas
di sela sepi
Seperti
singkatnya ingatan
dalam
sekelebat mimpi
Aku
lupa, aku sepuh, aku rapuh
Ini
hari istimewa
Mentari
tersenyum merangkai Doa
Melintas
membawa berkah bahagia
Di Hari
jadi
Sang
Bidadari
-------------------
Januari
2014
Ya Tuhan, jika suatu hari nanti saya jatuh cinta
Jatuh sejatuh-jatuhnya
Pada seorang perempuan
Tolong ya Tuhan
Jika dia bukan jodohku
Hapuskan perasaan cintaku padanya
Minimal satu hari sebelum pesta pernikahannya
***
Makassar, 2004
Doa Sepasang Rindu
Di langit.
Doa kita saling bertatap.
Berangkulan.
Lalu pergi bersama membujuk Tuhan.
Terkabul lewat kecup yang dititipkan rinduku.
Di sudut bibirmu
--------





